NOVEL CAHAYA SURGA DI MATANYA KARYA EDDY D. ISKANDAR

Novel Cahaya Surga di Matanya Karya Eddy D. Iskandar ini menyoroti kehidupan sebuah keluarga dan sebuah masa lalu.

Dengan melihat kover novel ini yang menggambarkan seorang wanita dengan jilbab biru menutupi kepalanya, kita akan tergiring bahwa novel ini kental dengan nuansa religi. Terlebih lagi judul Cahaya Surga di Matanya, sekilas membawa kita berimajinasi mengenai keindahan alam akhirat yang dapat kita lihat di dunia.

Aku seakan melihat cahaya surga dimatanya…. di mata adikku dan kakakku!

Kalimat tersebut akan kita temukan diakhir cerita pada novel ini. Kalimat tersebut diucapkan Iis yang merupakan tokoh utama dalam novel ini. Iis merupakan seorang gadis yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Nama gadis tersebut sebetulnya adalah Aisyah. Namun, ia merasa nama tersebut tidak cocok dengannya. Dia memiliki seorang adik yang bernama Adinda yang sering dipanggil Dinda. Ibunya bernama Bu Nina dan ayahnya Pak Bram seringkali pergi ke luar negeri untuk kepentingan bisnis. Iis dan keluarganya tidak mendalami ilmu agama dengan baik. Bahkan, ketika adiknya, Dinda diajak mengikuti pesantren kilat oleh temannya saat libuan, Iis dan ibunya merasa heran dan mencibir kegiatan positif tersebut.

Hal yang menarik dari novel ini adalah penggambaran karakter tokoh utama. Eddy D. Iskandar tidak menggambarkan seorang tokoh utama yang memiliki karakter dan perilaku sempurna. Dalam hal religius, tokoh utamanya yaitu Iis justru memiliki karakter yang bertolak belakang dengan beberapa tokoh pendukung cerita, seperti Dinda dan Alfa. Berbeda dalam penggambaran secara fisik. Secara tidak langsung, Eddy D. Iskandar menggambarkan tokoh Iis seorang wanita cantik yang diidam-idamkan banyak pria.

Berbagai peristiwa-peristiwa yang dialami para tokoh tersebut disajikan dengan menggunakan bahasa yang sederhana yang menjadi ciri khas Eddy D. Iskandar. Secara tidak langsung, kita pun dapat melihat nuansa dakwah yang terdapat pada novel ini. Namun, penyampaian dakwah tersebut sangat halus dan tidak terkesan menggurui. Barangkali, maksud penulis menggambarkan tokoh utama yang tidak mendalami ilmu agama dijadikan sebagai jembatan untuk penyampaian ilmu-ilmu agama yang seharusnya diamalkan.